Jumat, 10 Desember 2010

PERTUMBUHAN, PERKEMBANGAN, DAN REPRODUKSI PADA TUMBUHAN


ACARA 8
8.1
PERTUMBUHAN, PERKEMBANGAN, DAN REPRODUKSI PADA TUMBUHAN


             I.      PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Tumbuhan memiliki sistem organ pertunasan dan sistem organ perakaran. Sistem pertunasan berada di atas permukaan tanah, yaitu daun, tunas, batang, bunga, buah. Sistem perakaran meliputi bagian di dalam tanah yaitu akar, umbi, dan rizhoma. Sel tumbuhan terbentuk pada meristem yang tumbuh, berkembang sesuai tipe dan fungsi lalu membentuk jaringan.
Pertumbuhan adalah pertambahan massa, ukuran, volume yang bersifat irreversibel (tidak dapat balik). Pertumbuhan diikuti dengan diferensiasi, yaitu perubahan bentuk fisiologi sesuai fungsinya atau proses perkembangan.
Jadi :              Perkembangan = pertumbuhan + diferensiasi
Tumbuhan melakukan reproduksi seksual dengan dua proses bergantian yaitu meiosis dan fertilisasi. Meiosis dan fertilisasi membedakan kehidupan menjadi dua fase atau generasi yang berbeda yaitu fase gametofit dan fase sporofit. Selain reproduksi secara seksual, tumbuhan juga dapat melakukan reproduksi secara aseksual, misalnyadengan umbi lapis, rizhoma, atau batang yang menjalar. Pada beberapa jenis tumbuhan lebih sering dilakukan perbanyakan secara vegetatif dibanding dengan biji.

B.     Permasalahan
Dalam percobaan ini akan dilakukan untuk mengetahui bagaimana perkembangan dan pertumbuhan tumbuhan. Kemudian parameter apa saja yang dijadikan untuk mengukur pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan.

C.     Tujuan
Tujuan dilakukan percobaan antara lain untuk mengukur pertumbuhan dan melihat perkembangan tumbuhan dan untuk mengetahui macam-macam alat perkembangbiakan geeratif dan vegetatif tumbuhan.

          II.      TINJAUAN PUSTAKA
Ada dua cara yang amat berbeda dalam membentuk keturunan di antara makhluk hidup. Satu diantaranya ialah reproduksi seksual. Individu baru yang terbentuk karena tergabungnya informasi turun-temurun yang disumbangkan oleh dua sel berlainan, biasanya mewakili dua induk yang berbeda. Pada kebanyakan organisme sel-sel ini ialah gamet-gamet. Metode yang lainnya dalam reproduksi itu melibatkan satu induk saja. Dalam hal ini, disebut reproduksi aseksual, keturunannya itu terbentuk tanpa peleburan dua gamet. Banyak tumbuhan melakukan kedua cara reproduksi tersebut. Seperti yang akan kita lihat setiap cara ada keuntungannya.
Reproduksi seksual melibatkan kedua proses pembuahan (fertilisasi) dan meiosis. Pada fertilisasi, nukleus dua gamet bersatu, meningkatkan jumlah kromosom dari haploid menjadi diploid. Pada meiosis, jumlah kromosom direduksi lagi dari diploid menjadi haploid. Apapun variasi yang mungkin ada dalam perincian berbagai organisme, kedua aktivitas itu harus berlangsung saling bergantian jika reproduksi seksual harus ada (Kimball, 2009).
Meski reproduksi seksual mengambil berbagai bentuk pada tumbuhan, semua cara ini melibatkan satu ciri yang genting : mitosis. Individu baru timbul karena mitosis sel-sel satu tetua. Kecuali terkadang ada mutasi, mitosis itu menjamin bahwa keturunannya akan sama benar dengan tetuanya. Pada kebanyakan contoh reproduksi aseksual, keturunannya dihasilkan dekat tetuanya. Andaikan tetuanya itu sesuai benar dengan situsnya, maka demikian pula keturunannya.
Karena tanaman tertentu mungkin mempunyai ciri-ciri yang amat diingini (warna bunga), bau harum, resistensi terhadap penyakit, dsb), tanaman dagang yang penting dengan sengaja sering diperbanyak secara aseksual (Kimball, 2000).
Jika struktur reproduksi gymnosperma adalah runjung yang ovula, atau calon bijinya, terletak di sisik-sisik runjung yang terbuka, struktur-struktur reproduksi angiosperma adalah bunga yang sepenuhnya membungkus calon biji. Irisan memanhang pistil (struktur terdalam bunga yang mengandung struktur-struktur reproduksi betina) disebut karpel. Karpel barangkali muncul sebagai pelipatan sporofil ke dalam untuk membentuk ovarium, stilus, dan stigma (Fried & Hademenos, 2000).
Pada sejumlah organisme, pengaruh-pengaruh lingkungan dipercayai sebagai penyebab terbentuknya medan-medan metabolik. Pengaruh cahaya atau tekanan pada komponen-komponen suatu sel dapat menyebabkan orientasi etitas-entitas internal, yang menyebabkan terbentuknya medan perkembangan dan mempengaruhi pola pertumbuhan embrionik.
Jika bagian tumbuhan dipotong dari tubuh utamanya, tercipta suatu medan yang memengaruhi perkembangan bagian yang terlepas itu, ujung yang tadinya proksimal (melekat) akan cenderung berkembang menjadi sistem akar, sedangkan ujung yang tadinya distal (bebas) akan tumbuh menjadi daun atau kuncup bunga. Polaritas yang terjadi pada ranting yang diisolasi, misalnya, cukup mirip dengan polaritas yang terjadi dalam sel telur katak segera setelah fertilisasi (Fried & Hademenos, 2006).
Pada organisme multiseluler yang lebih kompleks (misalnya ita sendiri), derajat spesialisasi dilakukan lebih lama lagi. Setiap sel mempunyai satu atau dua fungsi yang tepat untuk dilaksanakan. Bergantung pada sel-sel lain untuk melaksanakan fungsi-fungsi lainnya yang perlu untuk mempertahankan kehidupan organisme dan dirinya. Proses spesialisasi ini dan pembagian kerja di antara sel-sel dinamakan diferensiasi. Salah satu masalah besar pada biologi ialah bagaimana diferensiasi itu timbul di antara sel-sel, kesemuanya itu karena mitosis, mempunyai kendali nuklir yang sama (Campbell, 2001).

       III.      METODE PERCOBAAN
A.    Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang diperlukan antara lain kecambah biji kacang hijau umur 3 hari, 5 hari, 7 hari masing-masing 3 buah.

B.     Cara Kerja
Dicabut kecambah kacang hijau dari masing-masing umur dan diukur panjang batang, lebar dan panjang daun. Dihitung rata-rata hasil pengukuran tersebut dan dibuat grafik pertumbuhan.

       IV.      HASIL DAN PEMBAHASAN
A.    Tabel
Umur
Ulangan
Tinggi Batang
Daun
Panjang
Lebar
3
I
0,7
-
-
II
0,6
-
-
III
1
-
-

Rata-rata
0,58
-
-
5
I
1,7
0,4
0,3
II
1,8
0,3
0,2
III
1,9
0,5
0,3

Rata-rata
1,8
0,4
0,267
7
I
7,1
1,4
0,9
II
7
1,42
0,78
III
7,4
1,5
0,86

Rata-rata
7,167
1,44
0,8467

B.     Pembahasan
Pertumbuhan adalah pertambahan massa, ukuran, volume yang bersifat irreversibel (tidak dapat balik). Pertumbuhan diikuti dengan diferensiasi, yaitu perubahan bentuk fisiologi sesuai fungsinya atau proses perkembangan.
Beda dari pertumbuhan dan perkembangan dilihat dari perubahannya dan parameternya. Sebagai contoh parameter pertumbuhan antara lain bobot segar, bobot kering, pertambahan panjang, dan pertambahan luas. Jika makhluk hidup megalami pertambahan panjang, pertambahan luas, maka makhluk hidup dikatakan mengalami pertumbuhan. Pada perkembangan, misalnya pada tumbuhan mengalami pendewasaan organ-organ untuk melakukan fotosisntesis, untuk melakukan reproduksi.
Faktor-faktor yang memengaruhi pertumbuhan adalah faktor eksternal/lingkungan yaitu, air, mineral, kelembaban, suhu, serta faktor internal yaitu hormon dan gen yang dihasilkan oleh tanaman itu sendiri. Hormon-hormon yang ada pada tumbuhan antara lain, auksin, giberelin, sitokinin, gas etilen, asam absisat, dan kalin.
Faktor-fakor yang memengaruhi perkembangan adalahnutrisi yang diterima oleh jaringan-jaringan tumbuhan sehingga mengalami perkembangan dan pendewasaan yang menyebabkan organ-organ dewasa aktif dan berfungsi bagi kehidupan tumbuhan.
Dari hasil percobaan didapatkan pertambahan panjang batang rata-rata dari umur 3 hari ke 5 hari sampai 7 hari. Lebar daun dan panjang daun kecambah mengalami kecenderungan pertambahan ukuran. Perkembangan pada kecambah yang memiliki batang, daun dan akar. Tiap bagian organ tersebut akhirnya mampu memiliki fungsinya masing-masing untuk menopang kehidupan kecambah.

          V.      KESIMPULAN
Kesimpulan dari percobaan ini adalah pertumbuhan dapat diukur secara kuantitas dari pertambahan ukuran tinggi, panjang dan lebar daun. Perkembangan dapat diukur dari tumbuh dan fungsinya organ-organ pada makhluk hidup.

       VI.      DAFTAR PUSTAKA
Kimball, John. W. 2000. BIOLOGY, Fifth Edition. Addison : Weasley Publishing Company Inc.
Kimball, John W. 2006. BIOLOGI Edisi Kelima Jilid 2. Erlangga. Jakarta
Fried, George H. & George J. Hademenos. 2000. Scahum’s Outlines of Theory and Problems of BIOLOGY 2nd Edition. The McGraw-Hall Companies
Fried, George H. & George J. Hademenos. 2000. Scahum’s Outlines BIOLOGI Edisi Kedua. Erlangga. Jakarta.
Campbell, N.A., L.G. Mitcell, J.B. Reece. 2001. Biology : Conceps and Connections. The Benjamin Cummings Publishing Co. California.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar